Candi Jawi

Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
(Average 0 of 0 Ratings)
  • place-img
  • place-img
  • place-img
  • place-img
  • place-img
  • place-img
place-imgplace-imgplace-imgplace-imgplace-imgplace-img

Terletak pada 290 mdpl disebelah tenggara Gunung Penanggungan, Candi ini memiliki fakta historis dan arsitektur kuno yang menarik. Bagi anda yang mencintai sejarah dan keindahan budaya Nusantara wajib mendatangi situs Candi Jawi. Nikmati pesona indah dan suasana hening yang tercipta dari salah satu peninggalan Kerajaan Singosari.

Hotels to Stay

Popular Destinations

Penjelasan

Candi Jawi berfungsi sebagai tempat penyimpanan sebagian abu Raja Kertanegara, Raja terakhir Kerajaan Singosari. Candi ini hanya berjarak ± 700 m dari Taman Candra Wilwatikta. Lokasinya mudah diakses sehingga destinasi wisata budaya yang tepat bagi pengunjung dalam dan manca negara.  Situs Candi Jawi memiliki luas area 4929 m2 yang terdiri dari Candi Jawi dan areal taman yang mengelilingi candi. Anda dapat mengunjungi Candi Jawi setiap hari pada jam kerja. Tersedia juga fasilitas umum seperti parkir dan toilet di situs Candi Jawi.

 

Lokasi

Candi Jawi terletak di Jalan Raya Bogem, Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Harga Tiket

Untuk memasuki situs Candi Jawi anda hanya perlu membayar biaya retribusi Rp. 2.000,-

 

Keunikan

Kolam bunga teratai yang mengelilingi Candi Jawi membawa keindahan tersendiri bagi situs ini. Arsitektur Candi Jawi merepresentasikan kondisi sosial zamannya. Kaki candi dan arca yang terdapat di dalam candi mencerminkan kebudayaan Hindu, sementara pundak candi mencerminkan kebudayaan Budha. Pintu Candi Jawi menghadap ke Timur dan membelakangi Gunung Penanggungan. Candi yang dibangun pada abad ke-13 ini merepresentasika sinkretisme ajaran Hindu dan Budha melalui arsitekturnya. Candi ini telah direnovasi pada tahun 1938 dan tahun 1975. Hingga kini masih terdapat perdebatan mengenai fungsi sesungguhnya dari ini.

Candi Jawi dibangun dari jenis batu hitam dan batu putih sehingga menimbulkan pendapat bahwa candi dibangun pada dua era yang berbeda. Bangunan Candi Jawi masih utuh namun pahatan reliefnya terlalu tipis untuk dibaca. Di sebelah Timur Candi terdapat fragmen 3 Candi Perwara yang berfungsi sebagai penjaga candi. Sementara itu disebelah Barat terdapat fragmen Candi Bentar yang dibangun menggunakan bata merah, berfungsi sebagai pintu gerbang Candi Jawi. Tepat ditengah, pada bagian tertinggi candi terdapat relief Dewa Surya.

 

Pemugaran

Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 dalam masa pemerintahan Hindia Belanda karena kondisinya sudah runtuh. Akan tetapi, renovasinya tidak sampai tuntas karena sebagian batunya hilang. Kemudian diperbaiki kembali tahun 1975-1980, dan diresmikan tahun 1982. Kini biaya pemeliharaan didapatkan dari sumbangan sukarela dari pengunjung maupun LSM lainnya. Bentuk bangunan Candi Jawi memang utuh, tetapi isinya berkurang. Arca Durga kini disimpan di Museum Empu Tantular, Surabaya. Lainnya disimpan di Museum Trowulan untuk pengamanan. Sedangkan yang lainnya lagi, seperti arca Brahmana, tidak ditemukan. Di gudang belakang candi memang terdapat potongan-potongan patung. Selain itu, terdapat pagar bata merah seperti yang banyak dijumpai di bangunan pada masa Kerajaan Majapahit, seperti Candi Tikus di Trowulan dan Candi Bajangratu di Mojokerto.

 

Sejarah

Kitab Nagarakertagama menyebut candi ini dengan nama Jajawa yang dikunjungi Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk pada tahun 1359 Masehi. Sang Raja singgah di candi ini untuk memberikan penghormatan dan persembahan untuk memuliakan kakek buyutnya Prabu Kertanegara. Negarakertagama menyebutkan, di dalam bilik candi terdapat arca-arca bersifat Siwaistik seperti Nandiswara, Durga, Ganesha, Nandi, dan Brahma. Dalam Kitab Negarakertagama tertulis bahwa pada masa itu terdapat arca Siwa, di atasnya terdapat arca Maha Aksobaya. Candi itu disambar petir pada tahun Api Memanah Hari (1253 Saka) atau Candrasengkala. Saat itulah arca Maha Aksobaya hilang. Dikisahkan Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk yang mengunjungi candi itu kemudian bersedih atas hilangnya arca tersebut. Ditulis bahwa setahun setelah Candi Jawi disambar petir, telah dilakukan pembangunan kembali. Pada masa inilah diperkirakan penggunaan batu putih. Namun, asal batu putih tersebut masih dipertanyakan, karena kawasan yang termasuk kaki Gunung Welirang kebanyakan berbatu hitam, dan batu putih hanya sering dijumpai di daerah pesisir utara Jawa atau Madura. Walaupun telah ditemukan, arca Maha Aksobaya yang kemudian dikenal dengan Patung Joko Dolog yang terdapat di Taman Apsari Surabaya bukan merupakan arca yang berasal dari Candi Jawi.

 

No Travellers Word

Leave a Review

Write a Review about Candi Jawi

Our Recommendations