Untitled-1candi-belahan

Menapak Tilas Peninggalan Kerajaan Kahuripan Hingga Majapahit

Banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarah pada era Kerajaan Kahuripan sampai Kerajaan Majapahit di Kab. Pasuruan. Kali ini kami akan mencoba menelusuri peninggalan bersejarah tersebut, berbagai cerita bersejarah yang kental membuat kami begitu penasaran dengan tempat-tenpat bersejarah tersebut.

Perjalanan Pertama

Pagi itu kami memutuskan untuk mengunjungi Candi Belahan ‎dulu, Candi Belahan terletak di suatu desa terpencil di Pasuruan. Secara administrasi, candi bersejarah ini masuk dalam kawasan Desa Wonosuryo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Mengingat lokasinya yang berada di lereng Gunung Pananggungan, perjalanan menuju Candi Belahan tidaklah mudah, karena harus melewati jalan desa yang rusak, berliku, dan terjal, namun disisi lain melihat alam yang begitu indah membuat kami merasa tentram,  Di candi ini juga terdapat fasilitas kamar mandi dan kantin, jadi tidak perlu repot untuk membawa bekal dari rumah, hanya saja jalan yang tidak terlalu lebar dan halaman yang tidak terlalu luas, kami sempat kerepotan untuk memarkir kendaraan yang kami bawa.

Sumber-Tetek-Bangil-Pasuruan-AII identita-ODTW-candi-belahan DSC_5483
Sejarah mencatat pada awalnya pada Candi Belahan terdapat arca yang diyakini sebagai arca Prabu Airlangga yang berwujud Dewa Wisnu dengan empat tangan, yaitu tangan kiri bagian belakang memegang sangka, sedangkan tangan kanan belakang menggenggam cakra, semacam senjata berupa roda bergerigi yang dapat mengakhiri segala kehidupan. Sementara kedua tangan yang lain membentuk sifat mudra, tulus bersemedi. Namun arca tersebut telah lama runtuh, dan hanya meninggalkan relungnya saja.

Tepat di bawah arca Prabu Airlangga terdapat dua arca unik yang menggambarkan dua permaisuri, Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Keunikan kedua arca tersebut terletak pada sumber mata air yang keluar dari payudara. Mata air dari payudara ini merupakan simbol amarta, air yang dipercaya mampu memberikan kekuatan, penyembuhan, dan bagi yang meminum airnya, dapat memberikan khasiat awet muda. Meski Jawa Timur dilanda musim kemarau berkepanjangan, air dari petirtaan Candi Belahan tetap mengalir dan jatuh ke kolam berukuran 4×10 meter yang berada tepat di bawahnya.

Candi Belahan merupakan salah satu peninggalan masa kedinastian di Indonesia yang merepresentasikan tingginya nilai-nilai budaya yang dianut masyarakat nusantara. Kekayaan ini sudah sepatutnya dijaga dan dilestarikan, sebagai aset yang tak ternilai harganya. Dibuka setiap hari, situs bersejarah Candi Belahan kerap dikunjungi oleh mahasiswa dan peneliti asing yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai Kerajaan Airlangga, salah satu kerajaan besar Jawa Timur yang harus terpecah menjadi dua bagian karena perebutan kekuasaan.

Perjalanan Kedua

Setelah mengunjungi Candi Belahan kami tidak kembali melalui jalan yang kami lalui sebelumnya, kami memilih untuk melewati jalan di punggung Gunung Penanggungan, jalanan yang melewati tenggah hutan membuat suasana menjadi lebih sejuk dan tenang. Setelah melewati beberapa desa kamipun sampai ke Candi Jawi yang terletak di kaki G. Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Candi Jawi mempunyai fasilitas kamar mandi, Musholla dan tempat parkir. Dengan harga tiket yang hanya 2000 rupiah, kami bisa menikmati keindahan candi ini. Bangunan candi dapat dikatakan masih utuh karena telah berkali-kali mengalami pemugaran. Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 dari kondisinya yang sudah runtuh. Akan tetapi, pemugaran tidak dapat dituntaskan karena banyak batu yang hilang dan baru disempurnakan pada tahun 1975-1980.

Dalam Negarakertagama pupuh 56 disebutkan bahwa Candi Jawi didirikan atas perintah raja terakhir Kerajaan Singasari, Kertanegara, untuk tempat beribadah bagi umat beragama Syiwa-Buddha. Raja Kartanegara adalah seorang penganut ajaran Syiwa Buddha. Selain sebagai tempat ibadah, Candi Jawi juga merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Kertanegara. Hal ini memang agak mengherankan, karena letak Candi Jawi cukup jauh dari pusat Kerajaan Singasari. Diduga hal itu disebabkan karena rakyat di daerah ini sangat setia kepada raja dan  banyak yang menganut ajaran Syiwa-Buddha. Dugaan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa saat Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara, melarikan diri setelah Kertanegara dijatuhkan oleh Raja Jayakatwang dari Gelang-gelang (daerah Kediri), ia sempat bersembunyi di daerah ini, sebelum akhirnya mengungsi ke Madura.

candijawi-1 candijawi-2
Candi Jawi menempati lahan yang cukup luas, sekitar 40 x 60 m2, yang dikelilingi oleh pagar bata setinggi 2 m. Bangunan candi dikelilingi oleh parit yang saat ini dihiasi oleh bunga teratai. Ketinggian candi ini sekitar 24,5 meter dengan panjang 14,2 m dan lebar 9,5 m. Bentuknya tinggi ramping seperti Candi Prambanan di Jawa Tengah dengan atap yang bentuknya merupakan paduan antara stupa dan kubus bersusun yang meruncing pada puncaknya. Posisi Candi Jawi yang menghadap ke timur, membelakangi Gunung Pananggungan, menguatkan dugaan sebagian ahli bahwa candi ini bukan tempat pemujaan, karena candi untuk peribadatan umumnya menghadap ke arah gunung, tempat bersemayam kepada Dewa. Sebagian ahli lain tetap meyakini bahwa Candi Jawi berfungsi sebagai tempat pemujaan. Posisi pintu yang tidak menghadap ke gunung dianggap sebagai akibat pengaruh ajaran Buddha.

Perjalanan Ketiga

Dari Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan kami menuju ke desa Sumber Rejo, Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur, untuk menuju pemandian Banyu Biru. Lokasi ini berjarak sekitar 15 km atau 30 menit berkendara dari arah Kota Pasuruan. Jika ditelusuri, pemandian Banyu Biru telah ada sejak zaman Kolonial Belanda. Ini bisa dilihat dari foto kuno tahun 1900-an koleksi KILTV dan Tropen Museum Belanda. Saat itu, banyak turis Eropa yang pelesir ke tempat ini. Selain berenang, mereka juga bermain-main dengan monyet-monyet liar yang jinak.

Dulunya, pemandian Banyu Biru disebut dengan Telaga Wilis. Banyak masyarakat sekitar yang percaya bahwa air di pemandian ini bisa membuat awet muda, sehingga jangan heran kalau pemandian ini sangat ramai dikunjungi apalagi pada hari libur. Bahkan, pada hari tertentu dalam kalender Jawa, banyak pengunjung yang melakukan ritual di pemandian ini. Selain tempat pemandiannya yang menarik, di sini kami juga dapat menikmati pemandangan alam nan asri di sekitaran kawasan Banyu Biru. Di pemandian Banyu Biru, terdapat empat kolam renang dengan ukuran cukup besar. Dua kolam pertama adalah kolam dengan sumber mata air asli dari alam, sedangkan dua kolam lainnya adalah kolam renang buatan.  Selain kolam renang yang cukup besar, wisatawan juga bisa menemukan sisa arca yang saat ini dikumpulkan dan tergolek di sebuah sudut pemandian. Arca-arca itu diidentifikasi oleh arkeolog asal Belanda pada tahun 1929.

Peninggalan paling menarik di pemandian ini adalah Kala. Kala ini diramal merupakan bagian dari struktur candi. Karena itu, Banyu Biru sering juga disebut sebagai patirtaan (pemandian kuno) yang dulu dikunjungi Raja Majapahit, Hayam Wuruk, ketika dalam perjalanan ke Lumajang. Ini masih ditambah dengan kumpulan arca yang berciri Siwa yang oleh Mpu Prapanca dituliskan sebagai Desa Buddhis.

kolam-utama situs DSC00573 kolam2
Di samping kolam renang dan peninggalan bersejarah, pemandian Banyu Biru juga menyediakan fasilitas arena bermain untuk anak-anak, sehingga jika anak-anak anda masih belum bisa berenang, bisa dialihkan untuk bermain di taman bermain ini. Di tempat ini juga tersedia pujasera jika anda tidak punya waktu untuk menyiapkan bekal, di pujasera ini tersedia banyak menu makanan dan juga makanan ringan. Tersedia juga mushola untuk beribadah, dan juga kolam ikan. Untuk bisa menikmati serunya bermain air dan menikmati pemandangan yang indah di pemandian Banyu Biru, pengunjung cukup membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang pada hari-hari biasa.

Pada akhirnya kami sebenarnya masih ingin untuk menulusuri tempat bersejarah yang lain, namun hari telah petang dan badan yang terlalu capek memaksa kami untuk pulang, masih banyak tempat-tempat bersejarah peninggalan era Kerajaan Kahuripan hingga Majapahit di Kabupaten Pasuruan yang akan kami bahas dipertemuan selanjutnya.

About the Author

Profile photo of Ganesha Musa

By ganesha / Administrator

Follow ganesha-musa
on Nov 12, 2016