img-20161111-wa0015

Mengungkap Situs Purbakala di Gunung Arjuna

Kali ini kami akan membahas tentang situs purbakala di gunung arjuno. Mengambil jalur purwosari, dimana sekian banyak pendaki gunung arjuno enggan menapakkan kaki melaui jalur ini karena nuansa mistisnya yang kental. Gunung Arjuna dengan ketinggian 3.339 mdpl, sejak jaman Majapahit sudah dijadikan tempat pemujaan. Seperti halnya gunung penanggungan yang terletak tidak begitu jauh dari gunung arjuna ini, keduanya banyak memiliki peninggalan sejarah berupa bangunan pemujaan.

Dilereng-lereng gunung Arjuna tersebut banyak terdapat arca maupun candi peninggalan kerajaan Majapahit. Situs-situs kuno dan bersejarah ini banyak berserakan mulai dari kaki gunung sampai di puncak gunung arjuna Situs-situs Candi dan patung pemujaan peninggalan Jaman Majapahit itu hanya dapat dijumpai di jalur pendakian Purwosari, yakni tepatnya dari desa Tambak watu kec. purwodadi, kab. pasuruan. Suasana angker dan penuh magis masih menaunginya, karena situs-situs tersebut masih sering didatangi para pejiarah untuk bermeditasi dan berdoa, terutama para penganut kejawen, sehingga situs-situs kekunaan di gunung Arjuna ini terawat dan terjaga dengan baik.

Mulai Perjalanan

Start kami mulai dari Dusun Tambakwatu, Desa Tambaksari (1.000 mdpl) Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, menuju ke Pos perijinan yang dikelola oleh pemerintahan Desa. Keramahan penduduk lokal menjadi ciri khas yang tidak kita jumpai di berbagai daerah lain, tegur sapa dan norma adat kesusilaan yang masih terjaga. Sepanjang berpapasan dengan penduduk lokal, tegur sapa dan senyum selalu menghiasi.  Di Dusun Tambakwatu Desa Tambaksari ini, Kami diwajibkan untuk melakukan pendaftaran dengan membayar iuran kas desa Rp.3000,- bagi setiap pejiarah/pendaki.

Perjalanan kami lanjutkan menyusuri tanjakan ringan diantara hutan pinus dan  perkebunan kopi penduduk. Suasana tenang, adem, ayem dan wingit mulai terasa begitu memasuki kawasan ini. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam  perjalanan dari titik awal pintu masuk pendakian untuk bisa mencapai Pos 1 yaitu pertapaan Antaboga atau yang lebih dikenal dengan nama Goa Antaboga.

gapura-ontobugo-300x200

goa-ontobugo-150x150 goa-ontobugo2-150x150
Sekedar tambahan jalur purwosari hingga Goa Antaboga dijadikan sebagai medan pelatian KOSTRAD ARJUNA,  maka tidak heran jika banyak bangunan yang bertuliskan Kostrad sebagai indentitas bangunan.
tugu-ontobugo-150x150
Pada Pos 1 di ketinggian 1.300 mdpl  kami disuguhkan sebuah monumen Naga Antaboga, kami juga menjumpai sebuah gua yang bernama Gua Antaboga. Goa ini berada di bawah tebing batu menghadap utara,dengan  kedalaman 1,5 m, lebar 1 m, serta mempunyai ketinggian 1,25 m, Di depan gua tersebut terdapat sebuah pondok yang biasa digunakan oleh para pendaki dan peziarah untuk melepas penat. Sebuah cungkup dengan arsitektur Jawa tampak berdiri megah dengan altar berkeramik yang berada di sisi kiri cungkup berukuran sekitar 6,5×6,5 meter. Setiap Jum’at Legi khususnya pada bulan Suro, goa ini banyak di kunjungi pejiarah sebagai tempat untuk mencari ketenangan hidup. Mereka membakar hio atau dupa serta menabur bunga tiga warna yang digunakan untuk sesajen selagi para peziarah itu memohon doa. Di pondokan ini kami berteduh dari gerimis dan melepas lelah sejenak.

 

Melanjutkan Perjalanan

Perjalanan selanjutnya ke pos 2 Tampuono. Sepanjang perjalanan kami masih bertemu dengan ladang penduduk, di jalur inilah para pendaki sering tersesesat, karena akan  kita jumpai beberapa jalan yang bercabang. Sedikit tips sebaiknya ikuti saja pipa air yang tersalur sepanjang jalan. karena pipa air ini yang akan  menuntun kita ke Pos 2 Tampuono. Dengan melewati jalan setapak yang terus menanjak, sementara di kiri kanan jalan nampak semak belukar yang masih rapat dan beberapa bunga liar, sekitar 30 menit kami menjumpai situs purbakala yang biasa disebut penduduk lokal dengan sebutan Watu Kursi, tempat ini biasanya dipakai peziarah untuk melantunkan doa, tak heran kami menjumpai berbagai sesajen dan bau harum dari hio di tempat ini. Sebenarnya sebutan Watu Kursi di Gunung Arjuna ada 2, Watu kursi yang kedua dapat kita jumpai di pos 5 Makutoromo, nanti kita akan membahasnya dipertemuan yang lain.

Kami melanjutkan perjalanan sekitar 10 menit kami sampailah di persimpangan punden Eyang Madrem. Situs ini hanyalah berupa cungkup yang beratap genteng dengan luas sekitar 1,5 x 1,5 m, berdiri di atas sebuah pondasi batu bata setinggi 3 m. Diatasnya terdapat batu andesit yang disusun berjejer tiga. Sementara di dekat batu tersebut di sediakan tempat kemenyan untuk para peziarah yang ingin berdoa di situ. Dari pondasi batu bata, sebelum menuju tempat utama punden, terlihat tangga batu yang teratur rapi.

Setelah itu, perjalanan mulai masuk ke hutan, banyak kita temukan sisa bakaran dupa di sepanjang pejalanan, sebagaimana mereka berusaha menghormati kekuatan alam. Hampir 1 jam kami berjalan menanjak dari pos 1, kami tiba di Pos 2 Tampuono, di pos 2 ini terdapat situs Petilasan Eyang Abiyasa dan Petilasan Dewi Kunti.

pos-2-tampuono-2-300x200
Jalan setapak disekitar situs ini ditata rapi dengan semen dan dikiri kanan jalan dibentuk taman-taman yang sangat rapi dan bersih. Petilasan inilah yang dijadikan pusat bagi para penganut aliran kepercayaan untuk berkumpul dan mengadakan ritual pada bulan Suro. Dalam bilik petilasan ini tidak terdapat arca maupun batu yang bisa dijadikan tanda peninggalan kerajaan. Tapi bagi mereka yang beruntung, mereka dapat melihat patung Eyang Abiyasa tersebut.

viu-utama-300x200

tampak-belakang-150x150 tampak-atas-150x150
Di pos 2 Tampuono juga terdapat kolam Dewi Kunti konon jika airnya diminum dapat memberikan keluhuran jiwa serta selalu ingat Hyang Kuasa.

img-20161111-wa0000 img-20161111-wa0002
Di sini juga terdapat beberapa pondokan yang dibangun untuk peziarah. Sekitar 50 meter agak ke bawah dari kedua petilasan ini terdapat situs Eyang Sekutrem. Petilasan ini dinaungi oleh pohon-pohon besar sehingga dari kejauhan sudah nampak kesan wingit dan angker. Petilasan Eyang sekutrem juga berupa kamar yang tertutup tembok. Lebar bangunan tersebut sekitar 2,5m x 2m. Di dalamnya ada sebuah arca yang terbuat dari batu andezit dengan tinggi sekitar 70 cm. Di petilasan ini selalu dinyalakan hio dan dupa yang menyebarkan bau harum.

Dari pos 2 ada 2 cabang jalan, melanjutkan perjalanan ke atas yang nantinya akan menuju ke pos-pos berikutnya dan ke kanan, menuju ke Bukit Lesung atau penduduk lokal menyebutnya dengan Putuk Lesung. Kami memutuskan untuk menempuh perjalanan ke Bukit Lesung, kami pun berjalan melalui hutan belantara dengan tingkat penanjakan yang bisa dibilang cukup menantang, hampir 30 menit kami melewati hutan, kami sampai pada savanna yang indah. Dengan pemandangan yang begitu menakjubkan, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk melihat pemandangan.

img-20161111-wa0006 img-20161111-wa0005 img-20161111-wa0004 img-20161111-wa0003 img-20161111-wa0007 img-20161111-wa0008 img-20161111-wa0009
Setelah 15 menit berlalu, kami melanjutkan perjalanan, setelah 10 menit berjalan, kami menemukan situs purbakala. Pada situs yang yang satu ini memang tergolong unik, bukan karena bentuknya yang menyerupai lesung, karena itulah penduduk lokal menyebut tempat ini sebagai Putuk Lesung. Lokasi yang berukuran 3.7 m X 3.4m ini terdapat sebuah situs seperti sebuah pondasi rumah yang hendak dibangun, berlantaikan batu berukuran + 30 – 35 cm dan memiliki ketebalan hingga  + 10 cm yang terpahat rata hampir menyerupai ubin batu jaman sekarang. Di tengah situs itu terdapat batu berbentuk seperti perahu ini memang sepintas mirip lesung mengingat bahwa penemu batu ini adalah penduduk setempat yang notabene adalah para petani atau pekebun yang  sedang mencari kayu bakar  atau sedang merumput untuk ternak-ternak mereka dan biasa menggunakan lesung sebagai tempat menumbuk padi.

img-20161111-wa0014 img-20161111-wa0015 img-20161111-wa0016
Sayangnya, kami tidak mendapatkan data-data sama sekali dari pihak terkait tentang situs ini, yang mengherankan adalah pihak berwenang hanya membiarkan saja pandangan publik  atau masyarakat awam tentang keberadaan benda purbakala seperti ini, anggapan bahwa pahatan batu ini adalah sebuah lesung batu adalah terlalu tergesa-gesa. Batu berbahan dasar andesit dan berbentuk perahu ini berukuran panjang + 175 cm, lebar + 70 cm, tinggi + 50 cm dengan ketebalan + 10 cm, kami mencoba mengukur kedalamannya yang penuh bekas genangan air hujan dan yang mengherankan lagi adalah penuh berisi berudu katak. Dari tubir hingga dasar mencapai + 30 cm. Dan posisinya menghadap arah Utara Selatan atau kearah puncak Gunung Arjuna. Arah hadap seperti ini biasa kita temukan pada kebudayaan Megalitikum,bahkan hampir semua kubur batu sejaman arah hadapnya sama, baik itu hingga kubur batu Tana Toraja sekalipun menghadap arah Utara Selatan dengan posisi kaki menghadap Utara sedang kepala berada di arah Selatan. Bagi orang-orang yang biasa bergerak dibidang sejarah apalagi arkeologi, sepintas lalu saja bisa diambil kesimpulan bahwa sebenarnya bukan merupakan sebuah lesung melainkan sebuah Sarkofagus atau sebuah peti mati batu. Peti mati batu populer sekali pada jaman Megalitikum yang berkurun antara 1000 SM – 100 M digunakan sebagai tempat menyimpan mayat para leluhur yang kebanyakan adalah para kepala suku atau pemimpin dari penduduk setempat di masa itu. Dijaman ini penggunaan alat-alat dari logam telah berkembang pesat, sehingga tidak terlalu sulit untuk memahat batu menjadi sebuah keperluan sehari-hari.

Tidak dapat dipungkiri penemuan benda purba seperti ini menguatkan dugaan kami bahwa di daerah Jawa Timur atau pulau Jawa pada umumnya sekitar 2500 tahun lalu telah hidup kelompok-kelompok masyarakat yang telah memiliki peradaban dan juga memliki sistem pemerintahan. Kami bias melihat betapa halusnya bentuk sarkofagus tersebut, menunjukkan kepiawaian pembuat sarkofagus menggunakan peralatan logam untuk membentuk batu andesit menjadi sebua peti mati batu. Kami tidak menemukan sebuah patung arca atau prasasti yang membuktikan memang bukanlah sebuah situs era kerajaan yang ada di Jawa, karena kerajaan di Jawa Timur yang tertua seperti kerajaan Kanjuruhan berdiri abad ke 6 M. jadi memiliki jeda waktu sekitar 1000-1500 tahun hingga muncul kerajaan-kerajaan besar di Jawa.

About the Author

Profile photo of Ganesha Musa

By ganesha / Administrator

Follow ganesha-musa
on Nov 11, 2016