Refreshkan Diri dengan Wisata Alam

Refreshkan Diri dengan Wisata Alam

Ketika pagi tiba, kami sedikit ingin merefreshkan pikiran kami dengan menjelajah wisata alam di Kabupaten Pasuruan. Setelah bersiap, sekitar jam 9 pagi saat itu, kamipun mulai perjalanan yang tentu saja diiringi oleh kemacetan kota Malang hingga Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang, kami seolah tak peduli dengan kemacetan tersebut dan ingin bergegas untuk menuju Kabupaten Pasuruan.

Jalanan yang begitu padat hingga saat kami berada di Lawang, bis antar kota seperti mengantri panjang didepan kami, membuat perjalanan kami semakin lama, maklum saat itu memang hari minggu yang notabene hari libur sekolah, begitu banyak kendaraan yang keluar masuk antara kota Malang dan Pasuruan. Dalam kemacetan tersebut kami banyak bercanda dan berbincang satu sama lain, hingga mencapai sebuah kesepakatan, jika pada kesempatan kali ini, kami akan mengunjungi pemandian Banyubiru yang terletak di Desa Sumberejo, Winongan, Kabupaten Pasuruan. Kami melewati Purwosari hingga Purworedjo dan terus ke utara hingga Warungdowo, sampai di perempatan Warungdowo, kami belok kanan dan terus ke timur ke arah pasar Winongan hingga kami sampai dipertigaan Jalan Raya Bandaran dan berbelok kanan atau ke selatan, sekitar 7 atau 10 menit dari situ, kamipun sampai di pemandiaan Banyubiru.

Banyubiru yang Memukau

Pemandian Banyubiru merupakan objek wisata renang terbuka dengan pemandangan alam yang sangat indah, di pemandian ini terdapat 2 pemandian alami dan 2 pemandian buatan. Di tempat ini juga terdapat banyak arca yang telah ditempatkan dalam satu lokasi agar pengawasan terhadap arca-arca ini lebih efisien. Saat penjajahan Belanda di Indonesia, tempat ini bernama Telaga Wilis, kemudian setelah Indonesia lepas dari penjajahan, tempat ini berganti nama menjadi Banyubiru, karena warna air yang jernih dan sedikit kebiruan yang diartikan sebagai air yang biru. Pemandian dengan pemandangan alam yang indah  ini sangat ramai saat akhir pekan.

Fasilitas yang ada di tempat ini sangat lengkap, hanya dengan membayar lima ribu rupiah saja kami dapat menikmati arena bermain anak, lapangan tennis, stand pameran, pujasera, dan kolam ikan. Di kolam alami ini kita bisa berenang dengan ikan-ikan yang hidup kolam tersebut, kita bahkan bisa menyelam dan snorkeling di kola mini untuk bermain dengan ikan-ikan besar tersebut, hanya saja kita tidak di ijinkan untuk memancing apalagi menangkap dan membawa pulang salah satu ikan yang hidup di kolam tersebut, karena ada mitos jika kita membawa salah satu ikan itu, kita akan tertimpa sial. Sedangkan kolam buatan juga ada dua, satu kolam renang untuk anak dan satu kolam renang untuk kejuaraan, terkadang tempat ini digunakan untuk atlet-atlet renang Indonesia untuk berlatih.

DSC00580 situs tempat-bermain-anak kolam2 warung
 

Setelah puas berenang dengan ikan-ikan besar yang berada di pemandian Banyubiru, kami beristirahat sejenak dan berdiskusi untuk mengunjungi tempat wisata alam yang lain. Kami memutuskan untuk pergi ke Ranu Grati yang tempatnya tidak jauh dari wisata Banyubiru.

Pesona Ranugrati

Kami mengunjungi Ranu Grati bukan tanpa alasan, Ranu Grati atau Danau Grati terletak di antara 3 desa yaitu desa Sumberdawesari, Desa Ranuklindungan, dan Desa Gratitunon, kecamatan Grati, mempunyai pesona alam yang tak kalah indah dari danau-danau yang lain di Indonesia.

Hanya sekitar 30 menit dari Pemandian Banyubiru kami pun sampai di Ranu Grati. Ranu Grati juga dimanfaatkan petani setempat untuk budidaya ikan keramba. Di Ranu Grati kami bisa menikmati pemandangan sambil melihat para petani beraktivitas. Di sini kami bisa memancing dan menyantap hasil dari pancingan kami sendiri tentunya dengan harga yang murah.

DSC09882 ranugrati-DSC_4227-Ab-I ranugrati-1 ranugrati
 

Namun dibalik keindahan alamnya, Ranu Grati memiliki kisah pilu di dalamnya. Siapapun tak pernah menyangka kalau dibalik keindahan dan ketenangan Ranu Grati pernah terjadi kejadian memilukan. Kami sempat terkejut dan seakan tak percaya kalau di danau yang tenang ini sebuah tank Amfibi pernah tenggelam beserta 23 awaknya.  Saat itu, 17 Oktober 1979, serombongan pasukan Tank Amfibi akan menggelar latihan rutin. Entah bagaimana ceritanya, ketika itu, ada sekitar 6-7 Tank Amfibi yang sudah mengambil ancang-acang di tepi Barat Ranu Grati untuk segera meluncur turun ke danau. Rencananya seluruh Tank Amfibi akan menyeberang danau. Konon, Mbah Kadun, sesepuh sekaligus juru kunci Ranu Grati kala itu sudah mengingatkan agar latihan ditunda atau dibatalkan. Tapi begitulah, latihan pun diteruskan. Satu demi satu Tank Amfibi memasuki air Ranu Grati dan bergerak menyeberang. Setelah semua Tank Amfibi di air, proses penyeberangan berjalan normal-normal saja hingga terjadi peristiwa yang menggegerkan sekaligus memilukan. Secara tiba-tiba, 50 meter menjelang pendaratan, satu buah Tank Amfibi kehilangan daya apung dan langsung tenggelam seperti tersedot ke dalam danau beserta seluruh awaknya. Kepanikan pun terjadi. Namun, setelah diadakan berbagai upaya, sampai berhari-hari dengan mendatangkan penyelam asing, jejak Tank Amfibi dan awaknya tak pernah ditemukan. Tragis. Ini mungkin erat kaitannya dengan Ranu Grati yang dari sejarahnya adalah Danau Maar. Danau akibat letusan vulkanik dengan dasar yang sangat dalam berbentuk corong. Hari yang mulai petang tak menyurutkan niat kami untuk mengunjungi wisata alam kabupaten pasuruan yang lain, kami pun memutuskan bersama untuk mengunjungi keindahan Gunung Bromo.

Bromo dan Upacara Karo

Dari Ranu Grati kami kembali ke Warungdowo, kemudian berbelok ke daerah Pasrepan. Di daerah ini kami melewati pasar tradisional buah-buahan, seperti pisang, mangga, durian, nangka, petai, dan empon-empon. Aneka jenis komoditas produksi para petani dari kaki Gunung Bromo tersebut bisa dibeli dengan cara borongan. Namun, jika ingin sekadar untuk mencicipi juga ada yang dijual secara perorangan/eceran. Sesampai di wilayah Puspo kami melihat kehidupan pedesanan yang unik. Di tanah hutan Puspo, biasanya wisatawan berpasasan dengan para warga yang meluncur pulang dari hutan dengan membawa rumput, kayu maupun, hasil hutan lainnya dengan menggunakan geledekan. Geledekan merupakan kendaraan yang terbuat dari kayu yang digunakan warga sebagai alat angkut. Namun kendaraan tersebut hanya bisa meluncur ke bawah, karena tenaganya hanya memanfatkan hukum grafitasi alam. Geledekan merupakan model kendaraan yang ramah lingkungan, karena tidak menggunakan bahan bakar jenis apapun. Geledekan hanya bisa meluncur,sehingga jika akan digunakan harus ditarik terlebih dulu ke tempat yang lebih tinggi.Sayangnya, kami tidak menjumpai satupun warga yang berpapasan dengan menggunakan geledekan karena waktu sudah menujukkan jam 9 malam.

Memasuki wilayah Tosari, kami disuguhi hutan yang masih berselimut kabut. Vegetasi hutan di wilayah Tosari relatif masih rapat, meski setiap tahunnya cenderung terus berkurang, seiring pemanfaatan untuk lahan pertanian. Di wilayah Tosari, kami dapat menyaksikan ladang sayuran yang merupakan produk utama wqarga setempat, juga bisa disaksikan ladang gandum, yang merupakan lahan percontohan pengembangan budi daya gandum di Indonesia. Jalanan yang gelap, dingin, menikung dan menanjak tidak menciutkan niat kami untuk bermalam di Bromo. Hampir 2 jam kami dalam perjalanan dan sampailah kami di Puncak Gunung Penanjakan. Sepanjang perjalanan, kami menyadari bahwa banyak sekali spot foto landscape yang belum terekspos dan tereksplore. Pemandangan dari Pasrepan hingga Tosari terdapat banyak keindahan alam yang sebenarnya bagus untuk difoto, sayangnya, saat kami menuju Gunung Bromo hari sudah malam.

gunung-bromo-dan-kegelapan-malam
 

Puncak Gunung Penanjakan merupakan jalan menuju Bromo dan objek pertama di Gunung Bromo yang harus dikunjungi dan hanya bisa dikunjungi lewat pasuruan, Penanjakan sendiri letaknya di Kabupaten Pasuruan. Dari titik puncak ini kami dapat melihat indahnya mentari saat pertama kali keluar dari ufuk timur yang menambah eksotiknya gunung bromo serta landscape Gunung Bromo yang mempesona dari berbagai penjuru mata dunia.

sunrise-bromo2 sunrise-bromo1
 

Keesokan harinya secara kebetulan masyarakat suku Tengger mengadakan Upacara Karo. Upacara Karo merupakan pesta ucapan syukur masyarakat Suku Tengger kepada Sang Murbaning Dumadi atau Sang Maha Kuasa yang telah melimpahkan kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah melalui Ibu Pertiwi yang telah memberi kesuburan tanah dan Bapa Angkasa yang telah memberi air dan hujan untuk menjaga kesuburan tanah. Ibu Pertiwi dan Bapa Angkasa, keduanya ( sakloron, keKAROne ) inilah yang dipestakan. Upacara Karo diadakan pada bulan Karo setahun sekali. Namun ada juga, pandangan berbeda tentang Upacara Karo yang menceritakan kisah moyang Suku Tengger bernama Setia dan Tuhu yang mati berkelahi akibat kesalah mengertian di antara keduanya ( sakloron, keKAROne ) untuk mematuhi pesan Sang Gurunya, Ajisaka. Kisah ini lebih berkembang di Desa Ngadas, Kabupaten Malang. Untuk menghindari terjadinya salah paham di antara masyarakat Suku Tengger serta tak banyak mengalami musibah ( paceklik dan pagebluk ) maka diadakan Upacara Karo.

upacara-karo2 upacara-karo1
 

Ritual upacara Adat Karo sendiri dipimpin oleh beberapa Ratu yang telah ditunjuk oleh mereka. Kata Ratu sendiri di mata masyarakat Tengger berarti pemimpin dan sama sekali tidak berkonotasi perempuan. Jadi Ratu dalam hal ini adalah pemimpin yang bisa saja berkelamin laki-laki. Ritual karo sendiri dibuka dengan pertemuan kedua orang Ratu dalam sebuah tempat yang nantinya akan dipakai sebagai tempat berlangsungnya upacara. Pertemuan kedua ratu ini menjadi tanda dimulainya Upacara Sodoran, salah satu bagian dari rangkaian Karo. Perjumpaan tersebut melambangkan bersatunya roh leluhur, cikal bakal manusia, yakni laki-laki dan perempuan.

Sambil bergandengan tangan, kedua ratu memasuki tempat tersebut. Dalam ritual ini yang boleh mengikuti jalannya upacara hanya kaum laki-laki saja dan kaum perempuan sama sekali tidak diperbolehkan mengikutinya. Dan setelah semua hadirin dipastikan telah hadir semua maka upacara ini pun dibuka dengan pembacaan mantera yang dilakukan oleh kedua Ratu mereka untuk mensucikan tempat dimana upacara itu berlangsung. Setelah itu barulah diadakan upacara memandikan Jimat Kelontongan diiringi dengan tarian sodor. Jimat kelontongan sendiri merupakan sekumpulan benda keramat. Sedangkan tarian sodor adalah sebuah tarian yang dilakukan oleh 4 orang secara bergiliran (dari semula hanya satu penari kemudian secara simultan bertambah hingga kemudian genap menjadi 4 penari dan saling berpasangan satu sama lain) yang melambangkan pertambahan generasi masyarakat Karo dari waktu ke waktu.

Sementara upacara sodoran ini hampir usai di luar kaum ibu-ibu beserta anak mereka pun mulai berdatangan sambil membawa makanan buat suami dan ayah mereka yang sedang melakukan upacara sodoran. Mungkin inilah alasan kenapa selama berlangsungnya acara sodoran ini kaum perempuan tidak diperbolehkan ikut, karena mereka harus menyiapkan makanan yang akan disantap oleh suami dan ayah mereka seusai upacara selesai.

Pada sore harinya secara marathon upacara sodoran ini pun dilanjutkan dengan upacara tumpeng gede untuk mengungkapkan perasaan syukur mereka dangan hasil panen yang melimpah dan dianugerahi tanah yang subur. Tumpeng-tumpeng ini dikumpulkan dari warga, lalu dimantrakan oleh dukun adat desa setempat. Tumpeng yang sudah dimantrai, dibagi-bagikan kepada warga untuk digunakan dalam ritual selanjutnya, Sesandingan. Ritual Sesandingan inilah yang diyakini masyarakat Tengger sebagai Puncak Karo.

Begitu upacara tumpeng gedhe selesai pada keesokan harinya warga pun menggelar upacara Sesandingan di rumah masing-masing yang bertujuan untuk memberikan makanan atau dedaharan kepada leluhur mereka. Yang unik dari upacara ini adalah upacara itu harus dipimpin oleh dukun adat mereka masing-masing yang dalam satu desa atau Hila-hila biasanya hanya terdapat satu dukun adat saja. Bayangkan, ang dukun harus mendatangi rumah warganya satu persatu untuk memimpin upacara tersebut. Maka dari itu tak heran kiranya jika satu dukun dalam masyarakat Tengger dalam upacara ini harus berkeliling mendatangi rumah warganya satu persatu memakan waktu hingga 15 jam nonstop. Padahal tugasnya tidak berhenti pada ritual Sesandingan, tapi berlanjut hingga akhir acara Karo. Yang perlu anda tahu, untuk menjadi dukun adat ini seseorang setidaknya harus menghafal sekitar 90 bab mantra, yang berbahasa Jawa Kuno. Mungkin itulah sebabnya, sosok dukun adat yang begitu sentral perannya dalam masyarakat Tengger tak banyak yang mampu melakoninya.

Baru setelah acara puncak sesandingan selesai, pada hari keempat dan kelima masyarakat Tengger berkeliling kampung untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat mereka layaknya hari lebaran pada agama-agama lainnya berikut sowan ke kuburan untuk nyekar kepada makam leluhur dan anggota keluarga mereka yang telah meninggal. Berziarah ke makam leluhur atau nyadran, adalah bagian dari ritual Karo yang dilakukan sehari sebelum ritual penutup, yakni hari ke-6. Makam pertama yang didatangi adalah makam kramat Sang Eyang Guru.Masyarakat Tengger percaya, doa dan harapan mereka akan dikabulkan, bila rajin memberikan sesajian kepada Sang Guru.Yang menarik dalam ritual tersebut adalah, saat dukun adat melemparkan uang logam dan ayam yang telah dimanterakan sebelumnya, untuk diperebutkan anak-anak dan remaja.

upacara-karo4
 

Dari makam Sang Guru, nyadran kemudian dilanjutkan ke makam keluarga. Ini bukanlah aksi gaya-gayaan warga Tengger. Ini adalah atraksi tarian Ujung-ujungan, yang mengawali rangkaian penutupan upacara Karo pada hari ketujuh. Disebut Ujung-ujungan karena para penari yang bertelanjang dada, secara bergantian memukul lawannya, menggunakan ujung rotan. Tarian ini sendiri merupakan ungkapan rasa syukur mereka karena telah berhasil dan lancar melaksanakan upacara Karo, oleh karenanya tak ada istilah kalah dan menang dalam kegiatan ini. Semuanya saling pukul dan begitu permainan usai tak ada dendam sama sekali di hati mereka meski badan harus wilur-wilur perih karena pukulan rotan sang lawan.

upacara-karo3
 

Kemudian menjelang Magrib, sebagai penanda selesainya rangkaian upacara Karo warga berduyun-duyun mendatangi rumah dukun adat membawa kemenyan untuk dimantrakan oleh sang dukun adat. Kemenyan ini sendiri nantinya akan dipakai oleh keluarga masing-masing dalam upacara memulangkan arwah leluhur. Dengan ritual pemulangan roh leluhur atau biasa dikenal dengan istilah Mulehi Ping Pitu tersebut, maka rangkaian upacara Karo pun berakhir sudah.

About the Author

Profile photo of Ganesha Musa

By ganesha / Administrator

Follow ganesha-musa
on Nov 14, 2016