mratuayu-tampak dalam

Wisata Religi di Kabupaten Pasuruan

Dalam sejarah Kabupaten Pasuruan mempunyai banyak ulama-ulama besar dijamannya, yang menyebabkan Kabupaten Pasuruan memiliki daya tarik sebagai wisata religi. Pada kesempatan kali ini kami akan sedikit berwisata religi untuk mengenang dan mencoba meringkas sejarah ulama-ulama yang menyebarkan agama Islam di Kabupaten Pasuruan.

Awal Perjalanan

Kami memulai perjalanan pagi itu dari Malang menuju Dusun Penanggungan, Desa Kejapanan, Kecamatan, Kabupaten Pasuruan untuk menuju ke Makam Sayyid Yahya atau yang di sebut sebagai Ki Ageng Penanggungan. Jalanan yang padat dan sedikit macet tidak menurunkan niat kami untuk mencari cerita sejarah dari para ulama besar yang diyakini meyebarkan agama di Kabupaten Pasuruan. Makam Ki Ageng Penanggungan berada disebelah selatan Pasar Kejapanan, tepatnya dibelakang Balai Desa Kejapanan. Makam Ki Ageng Penanggungan berdekatan dengan makam umum desa, oleh karena itu pada hari – hari tertentu kompleks pemakaman selalu dipenuhi oleh para peziarah, akses situs makam berada di belakang Masjid Sayyid Yahya. Tidak ada biaya retribusi yang harus dibayarkan untuk memasuki situs ini, bila berkenan anda dapat melakukan infaq di dalam Masjid. Saat memasuki wilayah makam, kami mendapatkan beberapa pengarahan dari marbot, bahwa di area pemakaman tidak diperbolehkan untuk merokok, dan diperbolehkan untuk bermalam jika ingin berziarah untuk waktu yang lama, asalkan melapor kepada pengurus Masjid Sayyid Yahya. Saat kami memasuki wilayah pemakaman, Makam Ki Ageng Penanggungan suasana syahdu, damai dan tenang menghampiri kami, seolah-olah alam pun tau kami hendak memanjatkan doa.

mpenanggungan-sisi lain mpenanggungan-gasebo
 

Hanya sedikit catatan yang bisa dihimpun dari kebesaran Sayyid Yahya atau yang lebih dikenal Ki Ageng Penanggungan. Sampai kini, kebesaran Sayyid Yahya kebanyakan berasal dari cerita turun temurun. Saat melakukan syiar di Pasuruan, Sayyid Yahya seringkali menuju Gunung Penanggungan. Disinilah tempat ia sering bermeditasi. Bukan tanpa alasan mengapa gunung ini dipilih. Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, seperti candi, tempat petilasan atau pertapaan, maupun petirtaan atau pemandian keamat dari periode Hindu-Budha. Gunung ini bahkan oleh masyarakat sekitar, dipercaya memiliki mitos yang begitu kuat. Gunung Penanggungan ini juga dipercaya punya keterkaitan dengan Gunung Mahameru, yang dipercaya juga sebagai tempat tinggal para dewa. Belakangan, nama Pawitra (Penanggungan) disebutkan dalam beberapa sumber sejarah, termasuk prasasti Cunggrang di Dusun Sukci. Prasasti itu dikeluarkan atas nama  Raja Pu Sindok pada tahun saka 851 (929 Sebelum Masehi). Dari bukti-bukti itulah, besar kemungkinan Sayyid Yahya melakukan syiar agar perlahan masyarakat yang masih mempercayai mitos, bisa hijrah menjadi muslim. Sayyid Yahya pada syiar Islamnya, bisa jadi memang berdakwah di kawasan dataran tinggi. Sebab saat zaman Walisongo  maupun keturunannya, kebanyakan melakukan syiar dengan mengambil lokasi pesisir.

Setelah diterima masyarakat, selanjutnya dakwah dilakukan dengan migrasi ke seluruh penjuru. Termasuk Sayyid Yahya yang kedapatan “tugas” untuk meng-Islamkan dataran tinggi. Saat itu, Sayyid Yahya mendapat tempat istimewa lantaran salah satu kampung di Kejapanan diberi nama Penanggungan. Bahkan Penanggungan menjadi nama desa hingga  setelah peninggalannya, desa ini berubah menjadi Djapanan dan Penanggungan masih menjadi wilayah dusun di desa  Djapanan. Pada Tahun 1998, Djapanan berganti menjadi  Kejapanan sampai dengan sekarang. Sayangnya, tidak ada data yang pasti kapan Sayyid Yahya  meninggal. Hanya saja dari cerita yang berkembang, Sayid Yahya sempat meminta jika kelak dia meninggal, jazadnya dimakamkan di Gempol. Setelah merasa cukup mendapatkan info sejarah dari Ki Ageng Penanggungan, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Perjalanan Kedua

Diperjalanan yang kedua ini kami memutuskan untuk menuju Makam Mbah Bangil. Dibutuhkan 28 menit dari Dusun Penanggungan, Desa Kejapanan, Kecamatan, Kabupaten Pasuruan menuju Jalan Bader No.3, Kalirejo, Bangil, Pasuruan. Pesarehan Mbah Bangil berada di pemakaman umum, untuk menuju ke sana kami diharuskan berjalan kaki dari tepi jalan. Agak sulit untuk menuju lokasi ini karena harus melewati makam-makam yang lain dan tidak ada jalan setapak yang pasti untuk menuju makam Mbah Bangil, tidak ada tempat parkir di area ini, jadi kami memarkirkan kendaan kami di tepi jalan. Makam Mbah Bangil sangat berbeda dari makam yang lain, karena makam ini di kelilingi oleh pagar putih dengan sebuah gapura kecil bertuliskan Makam Mbah Bangil. Dimakam ini terdapat pohon besar yang melindungi kami dari panasnya matahari saat berada di makam itu.

mbahbangil-depan mbahbangil-tampak dalam
 

Banyak versi sejarah dari Mbah Bangil ini, ada yang mengatakan bahwa Mbah Bangil inilah yang mendirikan daerah ini, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Mbah Bangil hanyalah sebuah sebutan untuk seorang ulama yang menyebarkan syiar Islam di daerah ini, Tidak ada yang tau pasti kapan Mbah Bangil ini meninggal dan sejak kapan beliau menyebarkan syiar di daerah ini. Istilah nama kota Bangil menurut pendapat dari kalangan umum santri mengatakan nama Bangil berasal dari istilah mbah ngelmu, sedangkan menurut pendapat masyarakat secara umum mengatakan bahwa bangil diistilahkan sebagai mbah mbahe angel artinya watak dan karakteristik masyarakat bangil sangat sulit untuk dirubah. Apalagi beralih kepada ideologi lain yang berseberangan dengan ajaran agama Islam, sebab agama Islam sudah menjadi darah daging dari nenek moyang mereka yaitu Mbah Bangil itu sendiri. Kemudian ada lagi yang mengartikan nama bangil dari bahasa madura yaitu bengel yang artinya berani, maksudnya adalah berani berhadapan dengan siapapun yang sengaja merusak ajaran agama Islam sehingga apabila muncul seorang ulama Bangil yang berani menjawab persoalan umat dan agama Islam yang dibenturkan dengan iseologi yang sengaja merusak ajaran agama Islam, maka ulama tersebut merepresentasikan sebagai mbah bangil yaitu disebut sebagai mbah ngilmu karena beliau adala seorang Ulama, kemudian disebut sebagai mbah mbahe angel karena beliau mempertahankan keyakinan atas kebenaran. Adapun beliau disebut sebagai orang bengel (berani) karena tindakan dan ucapannya berani dan tegas menghadapi siapapun juga berani menanggung resikonya. Fenomena di atas mencerminkan potret kehidupan dari seorang Mbah Bangil.

Pendapat dari kalangan kaum santri warga asli kota bangil mengatakan bahwa bangil berasal dari dua suku kata jawa yaitu mbah dan ngelmu  kemudian di sederhanakan menjadi Bangil artinya sejak di temukan sejarah kota Bangil maka semenjak itu pula adanya ilmu agama islam di kota tersebut, indikasinya adalah tidak diemukannya sejara peninggalan agama Hindu dan Bukamiha di Bangil. Hal itu dikaitkan dengan adanya Mbah Bangil di desa Pladhon Kalirejo. Beliau adalah seorang leluhur para ulama yang pertama babat alas untuk cikal bakal adanya kota Bangil. Berkat pejuangan Mbah Bangil  maka bayak diantara kaum muslimin berbagai suku bangsa berdatangan ke kota Bangil salah satu faktornya adalah ingin mendekatkan diri kepada ulama utuk mengaji ilmu agama islam sehingga lahirlah generasi ke generasi sampai kepada Habib Abdurahman bin Umar Basyaiban, suami dari Hababah Khodijah Binti Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang terkenal sebagei sebutan makam Mbah Ratu Ayu Ibu di Swadesi Kersikan Bangil Salah satu putra beliau diantaranya yang bernama Sayid Sulaiman Mojoagung.yang terkenal sebagai ulama yang pertama kali babat alas sebagai cikal bakal berdirinya pondok pesantren Sidogiri yaitu pondok pesantren Salaf Ahlussunah Wal Jama’ah yang pertama kali ada di jawa timur  bahkan paling tua keberadaannya di Indonesia. Hari  yang semakin panas memaksa kami untuk meninggalkan area Makam Mbah Bangil dan melanjutkan perjalanan ke tempat Mbah Rayu Ayu yang berada di sebelah alun-alun kota Bangil.

Perjalanan Ketiga

Hanya berselang 10 menit dari Makam Mbah Bangil menuju Makam Mbah Ratu Ayu yang berada di Jalan Untung Suropati No.72, Kersikan, Bangil. Berbeda dari makam-makam yang kami kunjungi sebelumnya, Makam Mbah Ratu Ayu mempunyai fasilitas yang lebih lengkap. Tempat parkir yang luas, Masjid, Toilet dan Pujasera yang menyediakan berbagai makanan ringan, makanan khas Pasuruan, dan minuman. Nama beliau adalah Syarifah Khadijah atau sering juga dipanggil Mbah Ratu Ayu Bangil. Melihat namanya pejuang Islam ini memang seorang wanita. Menurut sejarahnya Mbah Ratu Ayu masih ada hubungan dengan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) di Cirebon-Jawa Barat. Karena itulah di belakang nama beliau ditambahkan binti Syarif Hidayatullah.

mratuayu-gapura mratuayu-makam mratuayu-parkiran
 

Menurut cerita, cerita dimakamkannya Mbah Ratu Ayu di Bangil ini bermula ketika suatu saat Putri Sunan Gunung Jati ini mendadak dirundung rasa kangen yang begitu dalam kepada kedua putranya yang tengah belajar agama di pondok pesantren milik Mbah Soleh Semendhi di daerah Winongan yang tak lain masih familinya sendiri. Akhirnya berangkatlah beliau mengunjungi kedua putranya, Sayid Arif Basyaiban di Segoropuro (Rejoso-Pasuruan) dan Sayid Sulaiman di Mojoagung (Jombang). Namun sepulang menjenguk kedua putranya, Mbah Ratu Ayu mendadak sakit saat di daerah Bangil dan akhirnya beliau meninggal. Setelah meninggal Syarifah Khadijah dimakamkan di pemakaman di kawasan yang sekarang disebut dengan “Wetan Alun” (wetan=timur, alun=lapangan/alun-alun) karena memang kompleks makam Mbah Ratu Ayu itu berada di sebelah timur alun-alun Kota Bangil.

Mbah Ratu Ayu termasuk sosok yang sangat berjasa bagi pengembangan Islam di Kabupaten Pasuruan. Beliau merupakan cikal bakal bagi ulama-ulama besar di daerah Pasuruan. Melahirkan penerus berupa ulama besar di Pasuruan tidaklah muncul dengan sendirinya. Selain karena silsilah beliau dari salah seorang Wali Songo, suami Mbah Ratu Ayu juga orang yang sangat terhormat. Beliau adalah Habib Abdurrahman bin Umar Baasyaiban.

Sejenak setelah memanjatkan doa, kami beristirahat di pujasera yang tersedia di kompleks makam Mbah Ratu Ayu. Kami beristirahat dengan mencoba menyantap makanan khas Pasuruan yang menggugah selera dan harga yang tidak terlalu mahal. Setelah makan siang, kami memutuskan untuk kembali melanjutkan wisata religi kami. Kami memilih Makam Mbah Semendhi sebagai tujuan berikutnya.

Perjalanan Keempat

Makam Mbah Semendhi berada di jalan raya Bandaran, Winongan, Pasuruan. Perjalanan dari Makam Mbah Ratu Ayu menghabiskan 50 menit untuk sampai pada Makam Mbah Semendhi, dalam satu  lokasi pemakaman, terdapat 5 bangunan. Bangunan pertama merupakan bangunan yang terdapat makam Mbah Semendhi sendiri, bangunan yang selalu terawat rapi. Adapun tempat seperti pendopo yang berfungsi untuk peristirahatan bagi wanita dan pria secara terpisah. Serta Musholla, dan terakhir yakni kamar mandi. Pembangunan dilaksanakan mulai tahun 1990-2008. Mbah Semendhi adalah salah satu pemakaman tokoh agama Islam yang berasal dari Banten, yaitu kita kenal dengan nama Habib Sholeh atau sering disebut Mbah Semendhi. Mbah Semendhi merupakan tokoh pemberantas kejahatan dan mensyiar agama islam pada abad ke-18. Mbah Semendhi adalah putra dari Sultan Agung Hasanudin, cucu Raden Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Mulai tahun 1950, Makam Mbah Semendhi dirawat & dijaga oleh cucunya, Habib Abdul Qadir beserta keluarga besar. Nama Mbah Semendhi selalu dikaitkan dengan tokoh Bala Sugendhi. Bala Sugendhi merupakan raja setempat yang kuat, konon setiap tahun ia memandikan diri dengan api atau gendhi. Pemakaman Bala Sugendhi dipugar tahun 1990 – 2008 dan terletak dibelakang Situs Makam Semendhi.

msemendhi-tampak depan makam

Menurut rakyat sekitar pada mulanya Mbah Semendhi mengalami kesulitan menyebarkan ajaran Islam karena tidak menarik perhatian warga. Sementara itu Bala Sugendhi yang sakti memiliki banyak pengikut. Suatu hari kedua tokoh ini bertemu pada saat Bala Sugendhi sedang memetik buah kelapa. Bala Sugendhi memetik dengan cara yang salah sehingga menyebabkan pohon kelapa rusak.. Melihat hal tersebut Mbah Semendhi memberi saran kepada Bala Sugendi agar memetik buah kelapa satu  per satu. Bala Sugendhi kagum  pada kearifan Mbah Semendhi dan ingin berguru kepadanya. Di akhir cerita Bala Sugendhi beserta raja bawahannya memeluk Islam. Beberapa raja bawahan Bala Sugendhi yang tetap memeluk ajaran Hindhu pindah ke daerah Tengger. Juga menurut warga setempat, kegiatan keagamaan dilaksanakan setiap hari di kawasan makam Mbah Semendhi ini, secara tidak langsung dapat mencetak lingkungan yang kental dengan suasana keagamaan. Namun pada malam tertentu seperti malam Jum’at Legi, para peziarah dari luar daerah seperti Banjarmasin dan Samarinda memadati pemakaman untuk berziarah di makam Mbah Semendhi ini, tepatnya setiap tanggal 13 pada bulan Syawal akan dilaksanakan kegiatan Haul.

Perjalanan Kelima

Hari menjelang senja, ketika kami memutuskan berbelok menuju arah Desa Segoropuro, Kec Rejoso, Kab Pasuruan. Sekitar 10 kilometer arah timur dari jantung Kota Pasuruan melalui jalur Pasuruan-Surabaya. Dari arah tersebut sebelah kiri jalan terdapat gapura Desa Kemantren Rejo. Selanjutnya, masuk 2,5 kilometer menuju makam Segoropuro ditandai gapura Desa Segoropuro. Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar 23-27 menit dari makam Mbah Semendhi. Tujuannya tak lain adalah berziarah ke makam Sayid Arif bin Abdurrahim, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Segoropuro. Bagi yang belum pernah ziarah ke Makam Segoropuro, akses menuju lokasi terbilang mudah. Didukung pula dengan banyaknya penunjuk arah menuju kompleks makam. Wisata Religi Makam Segoropuro, begitulah tulisan penunjuk lokasi yang terpampang di pinggir jalan raya.

Sebuah halaman parkir yang nampak lengang menyambut kami saat memasuki kompleks makam. Luasnya area parkir sempat membuat kami memarkir kendaraan leluasa dan diparkir tepat di depan pintu masuk makam. Pemandangan lain, yang juga sempat terlihat adalah jajaran toko di sisi timur yang menjual aneka suvenir, makanan dan minuman.

msegoropuro-toilet tempat wudhu msegoropuro-tampak depan makam utama msegoropuro-pintu masuk
 

Kompleks pemakaman terlihat sepi, mungkin dikarenakan hari hamper petang ketika kami datang di lokasi ini. Jika hari biasa para peziarah datang silih berganti, Biasanya jumlah pengunjung melonjak saat malam Jumat Legi, peringatan haul setiap 10 Jumadil Akhir, atau pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir puasa Ramadhan. Beruntung kami datang di hari biasa. Jika tidak, jangankan bebas menentukan tempat parkir, duduk tenang berdzikir pun mungkin sulit. Sebab, pada hari-hari tertentu suasana makam yang lengang akan berubah menjadi lautan manusia yang memadati hampir setiap sudut makam. Di luar hari-hari khusus, kompleks makam Segoropuro memang menyajikan suasana yang hening cenderung mistis. Rindangnya pepohonan, kicauan burung, juga lokasi makam yang agak tinggi atau berbukit menambah kesan alami. Kendati di area seluas 2.500 meter persegi itu, telah dibangun aneka bangunan bergaya modern, seperti masjid, tempat wudlu, musala khusus putri, juga area makam utama dibentuk menjadi bangunan bercungkup. Tempat menarik lainnya, di sudut kompleks makam dapat dijumpai sebuah goa, yang konon dipercayai sebagai alternatif tempat tirakatan bagi yang ingin melakukannya. Ternyata yang datang ke sini bukan cuma mereka yang ingin berziarah. Ada pula yang melakukan tirakatan atau ritual khusus. Termasuk mereka yang tengah mencalonkan diri di jabatan-jabatan tertentu. Peziarah yang datang tak hanya dari dalam kota, namun  juga dari Jember, Banyuwangi, Malang, Sidoarjo, Surabaya, Jombang, Madura, Solo, bahkan Cirebon. Sesekali, tempat ini juga mendapat tamu dari luar negeri. Di kompleks makam Segoropuro terdapat tiga makam utama, yaitu Sayid Arif Abdurrahim, Sayid Abdurrahman, dan Mbah Kendil Wesi. Ketiga tokoh tersebut merupakan penggerak syiar Islam di pesisir Jawa, seperti Madura dan Pasuruan.

Bercerita mengenai Makam Segoropuro, dalam hal ini kisah Sayid Arif bin Abdurrahim tidak akan lepas dari kisah beberapa tokoh  ulama besar lainnya. Sayid Arif yang memiliki nama lengkap Sayid Ali Al-arif Basyaiban merupakan putra sulung dari Sayid Abdurrahman bin Umar Basyaiban asal Yaman.  Ibundanya adalah Ny Syarifah Khadijah binti Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) atau yang dikenal dengan sebutan Raden Ayu Bangil. Sayid Arif merupakan kakak kandung dari Sayid Sulaiman Basyaiban yang dimakamkan di Kanigoro, Kab Jombang. Sementara itu, keduanya juga merupakan keponakan, murid, sekaligus menantu dari Kyai Sholeh Semendi bin Syarif Hidayatullah.

Seperti halnya putra seorang ulama, keduanya mendapat pendidikan agama yang kuat dari orangtua dan pamannya. Tak hanya itu, ketika masih muda atas perintah sang ayah keduanya juga sempat menimba ilmu di pesantren Sunan Ampel Surabaya. Konon, waktu mondok  inilah karomah beliau berdua mulai terlihat. Sampai kemudian keduanya mendapat sebutan mas (sejenis ‘Gus’). Kisah itu bermula, ketika salah seorang pengasuh pondok yang tengah berjalan di sekitar area pesantren mendapati cahaya menyilaukan dari salah satu kamar santri. Karena kondisi sekitar yang gelap, sang kyai kesulitan mengenali tubuh dua orang yang ternyata menjadi sumber cahaya tersebut. Sehingga munculah inisiatif membuat ikatan pada sarung keduanya. Pagi harinya, sang kyai menanyakan perihal ikatan yang dibuatnya tersebut. Sampai akhirnya diketahui bahwa tubuh yang mengeluarkan cahaya emas menyilaukan tersebut adalah Sayid Arif dan Sayid Sulaiman. Sehingga sang kyai berpesan pada semua santri agar mulai hari itu, keduanya dipanggil dengan sebutan ‘Mas’.

Kisah menarik lainnya adalah sekembalinya dua bersaudara tersebut dari pesantren dan menemui sang ibunda di Cirebon. Selang beberapa waktu, sang ibunda kembali meminta keduanya menemui pamannya, Kyai Sholeh Semendi di Pasuruan untuk menimba ilmu. Singkat cerita, sesampainya di Pasuruan, Kyai Sholeh memberikan perintah yang mustahil pada keduanya. Membabat hutan dalam waktu sehari. Namun karena kebersihan hati dan ketawadluan keduanya, perintah tersebut tetap dipatuhi. Dan sungguh luar biasa, tugas itu berhasil dengan baik kurang dari sehari, dan tanpa berbekal alat berat apa pun. Selain pisau kecil yang konon diberikan sang bunda sebelum berangkat. Kisah tentang karomah beliau banyak sekali. Makanya kebiasaan di sini adalah tawassul Alfatihah ditujukan pada Sayid Arif, Sayid Abdurrahman putra beliau, dan Mbah Kendil Wesi, murid beliau yang juga punya karomah.

Tak terasa hari mulai petang, kamipun terpaksa kembali pulang ke rumah, sungguh pengalaman yang menarik ketika kami mencoba menggali cerita sejarah keagamaan yang melekat pada Kabupaten Pasuruan.

 

About the Author

Profile photo of Ganesha Musa

By ganesha / Administrator

Follow ganesha-musa
on Nov 14, 2016